SPPG HIPMI Karyawangi Perketat SOP dan Transparansi Publik
NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) HIPMI Karyawangi berupaya mematahkan anggapan negatif terhadap pengelolaan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengedepankan standar operasional yang ketat, keamanan pangan, serta keterbukaan kepada masyarakat.
Beroperasi di Jalan Kolonel Masturi, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dapur MBG tersebut telah melayani sekitar 3.200 penerima manfaat sejak mulai beroperasi pada September 2025.
Penerima manfaat terdiri atas pelajar, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang berada di wilayah Kecamatan Parongpong. Operasional dapur didukung oleh 52 tenaga kerja.
Kepala SPPG HIPMI Karyawangi, Arlan Hardi, mengatakan pihaknya ingin membangun kepercayaan publik melalui pengelolaan dapur yang memenuhi berbagai standar, mulai dari kebersihan, keamanan pangan hingga pengelolaan lingkungan.
Menurutnya, SPPG Karyawangi telah mengantongi Sertifikat Halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta didukung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memenuhi ketentuan.
Untuk menjaga kualitas sajian, pengelolaan menu juga melibatkan dua juru masak profesional yang telah memiliki sertifikasi.
"Keunggulan kami ada pada penerapan SOP yang ketat dan keterbukaan kepada masyarakat. Kami ingin memastikan makanan yang disajikan aman, berkualitas, dan proses pengelolaannya bisa dipertanggungjawabkan," ujar Arlan, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, transparansi menjadi salah satu prinsip yang terus dijalankan. Orang tua siswa dapat mengetahui menu makanan setiap hari melalui media sosial yang terhubung dengan situs resmi SPPG.
Selain itu, pengelola menyediakan layanan pengaduan melalui call center untuk menerima kritik, saran, maupun masukan dari masyarakat.
Agar kualitas bahan pangan tetap terjaga, penyusunan menu dilakukan secara mingguan. Langkah tersebut memudahkan proses pengadaan bahan baku sekaligus memastikan bahan makanan yang digunakan tetap segar.
Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG HIPMI Karyawangi, Yogi Leonardi, menjelaskan sistem IPAL di dapur tersebut menerapkan sembilan tahapan penyaringan sebelum air limbah dibuang ke lingkungan.
Ia menyebut hasil pengujian menunjukkan air limbah yang dialirkan ke kolam ikan tidak memberikan dampak negatif. Ikan tetap dapat hidup dengan baik sehingga menjadi salah satu indikator bahwa sistem pengolahan limbah telah berjalan sesuai standar.
"Air limbah yang keluar sudah melalui sembilan tahap penyaringan. Bahkan hasil uji menunjukkan ikan di kolam tetap hidup dengan baik, sehingga pengelolaan limbah kami dinilai aman," kata Yogi.
Selain limbah cair, pengelolaan sampah juga dilakukan secara terpisah. Sampah organik dimanfaatkan warga sekitar sebagai pakan ternak, sedangkan sampah anorganik seperti plastik diangkut secara rutin setiap pekan.
Komitmen terhadap keterbukaan juga diwujudkan dengan membuka kesempatan bagi kalangan akademisi untuk melakukan penelitian. Saat ini terdapat empat mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang tengah melakukan riset di SPPG Karyawangi, mulai dari pengelolaan sampah, sistem keuangan, aspek gizi hingga strategi komunikasi publik.
Mahasiswa tersebut berasal dari UIN Jakarta, UPI, UNAI, dan Poltekkes Bandung. Menurut Arlan, pihaknya terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari sistem pengelolaan dapur MBG selama tidak mengganggu aktivitas pelayanan.
Memanfaatkan masa libur sekolah, SPPG Karyawangi saat ini fokus melakukan evaluasi operasional, perawatan fasilitas, serta pembersihan menyeluruh seluruh area dapur. Langkah itu dilakukan agar pelayanan dapat kembali berjalan maksimal saat kegiatan belajar mengajar dimulai.
"Libur sekolah kami manfaatkan untuk evaluasi manajemen, general cleaning, dan perawatan peralatan. Perawatan rutin memang dilakukan setiap minggu agar kondisi dapur selalu higienis dan siap beroperasi," pungkasnya.