Publikasi SPPG
Baca
Thumbnail
2026-07-07 12:00:00
https://sppghipmikaryawangi.id/berita/sppg-karyawangi-di-bandung-barat-pakai-ai-untuk-operasional-mbg-ini-manfaatnya

SPPG Karyawangi di Bandung Barat Pakai AI untuk Operasional MBG, Ini Manfaatnya


Sumber

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) HIPMI Karyawangi di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam operasionalnya. Dengan teknologi itu, dapur mampu menjawab pertanyaan seputar menu harian, kandungan gizi, jadwal distribusi, hingga prosedur pengaduan tanpa harus menunggu operator.

 

Dapur MBG yang berada di Jalan Kolonel Masturi, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong itu juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan pelayanan, dokumentasi, edukasi gizi, dan komunikasi dengan masyarakat. Jadi ketika orang nanya, bisa fast response dijawab AI. Karena data kita sudah terinput, terkoneksi dengan website dan WhatsApp," kata Kepala SPPG HIPMI Karyawangi Arlan Hardi saat ditemui, Kamis (2/7/2026).

SPPG yang beroperasi sejak September 2025 ini kini melayani sekitar 3.200 orang penerima manfaat program MBG baik pelajar, balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Dapur itu juga menyerap tenaga kerja hingga 52 orang.

Arlan mengatakan, pertanyaan yang berulang dari masyarakat kini ditangani AI sehingga tenaga administrasi dapat lebih fokus pada pengawasan mutu makanan, distribusi, dan evaluasi operasional dapur.

Selain itu, isu dan hoaks seputar Program MBG beredar di masyarakat. Untuk meminimalisir disinformasi costumer service berbasis AI sangat membantu dalam menangani keresahan masyarakat.

"Program ini kita kembangkan sejal awal tahun lalu. Dan sangat membantu baik secara operasional kami maupun menjawab keresahan penerima manfaat," ujarnya.

Sebagai bentuk transparansi, SPPG HIPMI Karyawangi juga setiap hari melakukan live di kanal Tiktok untuk menjawab pertanyaan masyakarat atau berbagi informasi tentang pengelolaan SPPG sesuai standar.

"Ini bentuk dari keterbukaan kita juga kepada masyarakat. Kita justru dengan senang hati kalau ada masyarakat yang ingin bertanya tentang kondisi dan cara kerja dapur kami," kata Arlan.

Dalam kesempatan itu, dirinya juga menegaskan kualitas menu MBG yang diterima penerima manfaat merupakan indikator utama keberhasilan pengelolaan MBG. Pengelolaan dapur tidak hanya berfokus pada proses produksi makanan, tetapi juga memastikan setiap menu memenuhi standar gizi, cita rasa, dan keamanan pangan.

"Output dari program ini adalah kualitas menu. Karena itu, setiap makanan yang kami sajikan selalu disertai informasi kandungan gizinya agar orang tua mengetahui apa saja nutrisi yang dikonsumsi anak-anak mereka," kata Ahli Gizi SPPG HIPMI Karyawangi, Salma Karisa.

Sebagai bentuk transparansi, Salma bahkan rutin merekam dirinya saat mencicipi menu yang akan dibagikan kepada siswa. Video tersebut kemudian dikirimkan kepada kepala sekolah melalui grup WhatsApp untuk diteruskan kepada orang tua.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk membangun kepercayaan masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa makanan yang disajikan telah melalui pengawasan kualitas.

Selain itu, SPPG HIPMI Karyawangi juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat melalui siaran langsung di media sosial mengenai proses pengelolaan dapur MBG. Informasi mengenai menu harian juga diunggah setiap hari melalui akun Instagram dan disimpan pada fitur highlight sehingga dapat diakses kapan saja oleh masyarakat.

"Kami ingin masyarakat mengetahui secara terbuka bagaimana makanan dipersiapkan dan seperti apa menu yang diterima siswa setiap harinya," katanya.

Untuk menjaga kualitas rasa sekaligus nilai gizi, SPPG HIPMI Karyawangi mempekerjakan dua chef bersertifikat yang bekerja bersama tim ahli gizi dalam menyusun menu harian. Menurut Salma, perpaduan antara aspek kuliner dan ilmu gizi menjadi kunci agar makanan tidak hanya sehat, tetapi juga disukai anak-anak.

SPPG HIPMI Karyawangi juga menyediakan formulir kritik dan saran bagi para penerima manfaat, meskipun mekanisme tersebut tidak diwajibkan dalam petunjuk teknis pelaksanaan Program MBG.

Berbagai masukan dari siswa menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan menu berikutnya. Mulai dari permintaan variasi makanan hingga preferensi terhadap jenis lauk tertentu.

"Anak-anak cukup aktif memberikan masukan. Ada yang meminta spaghetti, roti, atau menyampaikan kalau tidak suka telur ceplok. Semua kami tampung sebagai bahan evaluasi, meski tentu tetap disesuaikan dengan standar gizi yang harus dipenuhi," kata Salma.

Kembali Beranda